Hj. Puti Hasni jadi satu-satunya calon perempuan di Muscab PKB Jakarta Barat. Ia dorong politik inklusif dan kepemimpinan nyata, bukan sekadar penuhi kuota 30%. Simak narasinya yang singgung semangat Kartini.
PKBTalk24 I Jakarta ~ Jakarta Barat lagi nggak baik-baik aja. Muscab PKB Jakbar yang biasanya adem-ayem, tiba-tiba panas. Penyebabnya? Dari lima kandidat yang maju, satu nama bikin semua mata melirik: Hj. Puti Hasni. Bukan cuma karena dia satu-satunya perempuan, tapi karena narasinya nendang: politik harus buka ruang setara, bukan cuma nyaman sama pola lama.
Kontestasi Muscab PKB Jakarta Barat masuk babak baru. Di tengah dominasi wajah lama, muncul Hj. Puti Hasni yang langsung geser arah pembicaraan. Satu-satunya srikandi di bursa calon ketua ini nggak datang bawa jargon kosong. Ia tegas bilang, langkahnya bukan ambisi pribadi, tapi ikhtiar kolektif: hadirkan kepemimpinan yang adil dan inklusif.
Selama ini, politik sering banget terjebak di pola “asal ada perempuan”. Nama perempuan dicantumkan biar kuota 30% aman. Tapi setelah itu? Banyak yang mentok di atas kertas. Nggak benar-benar diajak bikin keputusan. Nah, Puti mau dobrak itu.
“Ini bukan soal saya beda sendiri. Ini soal apakah politik kita udah siap kasih kursi pengambil keputusan ke perempuan, bukan cuma daftar hadir,” tegas Puti, yang juga Ketua DPW Perempuan Bangsa DKI Jakarta.
Kuota 30% Jangan Cuma Jadi Pajangan
Puti nyentil realitas pahit: kuota 30% perempuan di partai sering cuma formalitas. Ada, tapi nggak menentukan. Lewat pencalonannya, dia mau naik level. Dari sekadar representasi, menuju kepemimpinan nyata.
Momentumnya juga pas. Muscab PKB Jakbar digelar berdekatan dengan Hari Kartini. Buat Puti, Kartini bukan buat dirayakan setahun sekali. “Kartini harus diteruskan. Kesetaraan nggak cukup diucapin, harus diwujudkan di ruang strategis kayak politik,” katanya.
Bukan Sekadar Pelengkap
Dengan pengalaman organisasi dan advokasi, Puti bawa modal lebih dari sekadar simbol. Ia dorong cara pandang baru: perempuan bawa perspektif beda dalam lihat masalah sampai bikin kebijakan. Politik yang isinya beragam, katanya, pasti lebih nyambung sama realitas warga.
Kalau langkah ini konsisten, dampaknya nggak cuma buat internal PKB. Publik bisa lihat politik dengan kacamata baru: perempuan bukan opsi tambahan, tapi penentu arah masa depan.
Muscab PKB Jakbar pun akhirnya jadi lebih dari adu kuat kandidat. Ia berubah jadi cermin: seberapa siap partai politik kasih ruang kepemimpinan sejati buat perempuan? (AKH)











