“PKB ingin jadi rumah besar politik yang terbuka, inklusif, tapi tetap berakar kuat pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan,” ujar Fauzi usai menghadiri pembukaan Muscab di DPC PKB Jakarta Timur.
PKBTalk24 | Jakarta ~ Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jakarta mulai tancap gas menuju kontestasi politik 2029. Lewat gelaran Musyawarah Cabang (Muscab) serentak di seluruh DPC se-DKI Jakarta pada 18–19 April 2026, partai ini tak sekadar merapikan struktur—tapi juga menyusun arah masa depan politik ibu kota.
Ketua DPW PKB DKI Jakarta H. Hasbiallah Ilyas saat memberi sambutan menyampaikan jika ia memimpin PKB Jakarta dengan dengan modal nol, dari satu kursi di DPRD DKI Jakarta, hingga akhirnya bisa meraih 10 kursi DPRD DKI di Pemilu 2026. “PKB Jakarta itu, modalnya hanya doa, alhamdulillah, naik jadi lima kursi dan saat ini 10 kursi,”ujar Hasbi di hadapan Wagub DKI Jakarta H. Rano Karno (Bang Doel), Sabtu (18/4/2026).
Sementara itu, Sekretaris Wilayah DPW PKB Jakarta, H. Mohammad Fauzi, dalam releasenay yang dibagikan kepada media menegaskan gelaran Muscab DPC PKB se-Jakarta ini bukan sekadar rutinitas organisasi. Ini adalah “reset politik” untuk menghadirkan struktur partai yang lebih solid, visioner, dan benar-benar bekerja untuk masyarakat.
Mengusung tagline “PKB Masa Depan Jakarta”, agenda Muscab DPC PKB se-Jakarta selama dua hari tersebut, menjadi titik tolak konsolidasi besar-besaran, sekaligus sinyal bahwa PKB ingin tampil lebih segar, inklusif, dan relevan dengan zaman.
“PKB ingin jadi rumah besar politik yang terbuka, inklusif, tapi tetap berakar kuat pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan,” ujar Fauzi usai menghadiri pembukaan Muscab di DPC PKB Jakarta Timur.
Bukan Cuma Struktur, Tapi Arah Baru PKB Jakarta
Muscab kali ini tak berhenti pada pemilihan pengurus periode 2026–2031. Lebih dari itu, PKB Jakarta sedang merumuskan wajah barunya: partai yang dekat dengan realitas warga kota. Ada tiga fokus besar yang jadi “game changer”:
1. Anak Muda Jadi Pusat Gerakan
PKB ingin keluar dari stigma partai “lama” dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi milenial dan Gen Z. Targetnya jelas: menjadikan partai sebagai rumah aspirasi kreatif sekaligus kendaraan politik anak muda Jakarta.
2. Green Party: Isu Lingkungan Naik Kelas
Di tengah krisis iklim dan persoalan kota seperti banjir dan polusi, PKB mulai menegaskan diri sebagai partai yang serius mengarusutamakan agenda lingkungan hidup dalam kebijakan publik.
3. Budaya Betawi Tetap Jadi Akar
Modern, tapi tidak tercerabut dari identitas. PKB menempatkan pelestarian budaya Betawi sebagai fondasi, sekaligus merayakan keberagaman sebagai kekuatan Jakarta.
“Politik Kehadiran”: Dari Slogan Jadi Aksi Nyata
Satu konsep yang terus ditekankan adalah politik kehadiran, gagasan yang didorong langsung oleh Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar.
Bagi PKB Jakarta, ini bukan sekadar jargon. Ada dua langkah konkret: Turun langsung ke masyarakat, bukan hanya saat pemilu, Membangun struktur inklusif, termasuk memberi ruang strategis bagi perempuan di semua level kepengurusan. “PKB harus hadir setiap saat, bukan hanya lima tahunan,” tegas Fauzi.
Kritis, Tapi Tetap Jadi Solusi
Menariknya, PKB juga menegaskan posisinya sebagai mitra kritis pemerintah. Artinya, mereka tidak sekadar mendukung, tapi juga mengawasi dan memberi masukan—terutama dalam isu pembangunan Jakarta.
Bagi PKB, kritik bukan bentuk oposisi kosong, melainkan bagian dari tanggung jawab politik untuk memastikan kebijakan benar-benar berdampak bagi rakyat.
“Kami ingin PKB jadi bagian dari solusi. Kritis itu perlu, tapi tujuannya jelas: kesejahteraan masyarakat,” kata Fauzi.
Menuju 2029: PKB Ingin Lebih dari Sekadar Partai
Dengan Muscab ini, PKB Jakarta tampaknya ingin mengubah positioning: dari sekadar partai politik menjadi platform gerakan sosial, budaya, dan generasi muda.
Tagline “PKB Masa Depan Jakarta” bukan sekadar slogan—melainkan pesan bahwa mereka sedang menyiapkan fondasi jangka panjang untuk merebut kepercayaan publik. (AKH)












