• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
PKBTalk24.Com
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
PKBTalk24.Com
No Result
View All Result
Home Feature

Bara Tambang di Rumah Besar Nahdlatul Ulama

Redaksi by Redaksi
26 Desember 2025
in Feature, Opini
0
0
SHARES
53
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

Konflik internal PBNU mencerminkan ujian besar Nahdlatul Ulama di awal abad kedua. Dari polemik kepemimpinan hingga isu konsesi tambang, apakah NU sedang rapuh oleh sumber daya ekonomi?

Oleh: Komarudin Daid | Sekretaris DPC PKB Jakarta Barat

PKBTalk24 | Jakarta ~ Tak banyak organisasi kemasyarakatan di Indonesia yang mampu bertahan lebih dari satu abad tanpa kehilangan relevansi. Nahdlatul Ulama adalah pengecualian. Dalam usia yang telah melampaui seabad, NU bukan hanya hidup, tetapi tumbuh menjadi jangkar sosial, keagamaan, dan kebangsaan Indonesia. Karena itu, ketika konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meledak ke ruang publik, kegaduhan ini terasa lebih dari sekadar pertikaian elite organisasi.

Kisruh antara Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menjelma menjadi tontonan politik internal yang sulit disembunyikan. Pernyataan saling bantah, tafsir aturan yang saling berhadap-hadapan, serta manuver struktural yang terbuka, membuat rumah besar NU tampak gaduh dari dalam.

NU seperti kapal tua yang selama puluhan tahun berlayar menembus badai ideologi, tekanan kekuasaan, dan konflik kebangsaan. Namun kali ini, kebocoran bukan datang dari gelombang luar. Retaknya muncul di dalam geladak, di antara para pengelolanya sendiri.

Kepemimpinan dan Tafsir Kekuasaan

Konflik terbuka bermula dari rapat harian Syuriyah PBNU, 20 November 2025. Keputusan memberhentikan Ketua Umum PBNU menjadi titik balik eskalasi. Dua alasan disampaikan ke publik: undangan terhadap akademisi Amerika Serikat yang dikenal pro-Israel dalam kegiatan resmi PBNU, serta dugaan ketidakterbukaan pengelolaan keuangan organisasi.

Ketua Umum PBNU mengakui kesalahan dalam keputusan mengundang narasumber tersebut dan menyampaikan permohonan maaf. Namun permintaan itu tak mengubah keputusan. Ultimatum pengunduran diri dilayangkan. Dari sini, konflik bergeser dari isu etik menuju soal konstitusionalitas.

KH. Yahya Cholil Staquf menyebut keputusan itu inkonstitusional. Ia merujuk pada mandat Muktamar, forum tertinggi NU. Tafsir ini tak berdiri sendiri. Sejumlah kiai sepuh yang tergabung dalam Mustasyar PBNU menilai pemberhentian tersebut tak memiliki dasar organisatoris yang kuat dan mendorong islah.

Sejarah NU memang akrab dengan perbedaan tafsir. Namun biasanya, konflik diredam sebelum menyentuh ruang publik. Kali ini berbeda. Pertarungan tafsir berubah menjadi pertarungan legitimasi.

Belajar dari Gus Dur

Bagi warga NU, polemik ini memantik ingatan lama. Pada 1994, Abdurrahman Wahid—ketika itu Ketua Umum PBNU—mengunjungi Israel. Langkah tersebut menuai kecaman luas. Ia dituduh tak sensitif pada perjuangan Palestina, bahkan dicap Zionis oleh sebagian kalangan.

Namun NU memilih satu hal penting kala itu: menahan diri. Polemik Israel tidak dijadikan alasan untuk memecah organisasi. Para kiai NU sadar, konflik terbuka justru akan melemahkan NU di tengah tekanan Orde Baru yang kala itu ingin menyingkirkan Gus Dur dari PBNU. Sejarah mencatat, NU keluar dari badai itu dalam keadaan utuh.

Pertanyaan yang menggantung hari ini: mengapa kesabaran kolektif yang sama sulit ditemukan dalam konflik PBNU sekarang?

Tambang dan Ujian Ekonomi Organisasi

Di sinilah kecurigaan publik bermula. Penjelasan resmi konflik terasa belum sepenuhnya menjawab kegelisahan. Di balik polemik kepemimpinan, mencuat satu isu lain: konsesi tambang.

Bagi NU, konsesi ini adalah hal baru. Selama puluhan tahun, organisasi ini tumbuh dengan keterbatasan finansial. Sekolah, pesantren, universitas, klinik, dan rumah sakit NU berdiri bukan karena limpahan modal besar, melainkan karena daya tahan sosial.

Namun sumber daya ekonomi berskala besar memiliki logika sendiri. Ia kerap datang bersama konflik, kepentingan, dan perebutan kontrol. Tambang bukan hanya soal kesejahteraan, tapi juga soal kuasa.

Konflik PBNU hari ini memberi kesan, NU belum sepenuhnya siap menghadapi ujian baru ini. Jika belum menghasilkan apa-apa saja sudah memecah elite-nya, publik bertanya-tanya: apa yang terjadi ketika sumber daya itu benar-benar mulai menghasilkan keuntungan?

NU, Negara, dan Cermin Diri

Selama ini NU dikenal sebagai penopang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari menghadapi komunisme, ekstremisme, hingga ideologi transnasional, NU selalu berada di barisan depan menjaga republik. Banyak kalangan meyakini, melemahkan NU berarti membuka celah bagi goyahnya NKRI.

Ironisnya, kali ini NU bukan dilemahkan oleh lawan ideologis, melainkan oleh konflik internalnya sendiri.

Organisasi sebesar NU tentu tak akan runtuh hanya oleh satu konflik. Namun sejarah juga mengajarkan, perpecahan elite sering kali menjadi pintu awal kemunduran panjang. Apalagi jika konflik itu berkaitan dengan sumber daya ekonomi.

Mungkin inilah saat NU bercermin. Apakah konsesi tambang benar-benar menjadi jalan kemandirian, atau justru beban yang terlalu berat bagi organisasi berbasis moral dan kultural? Pertanyaan ini layak dijawab dengan jernih—bukan melalui pertarungan ego, melainkan kebijaksanaan kolektif.

Sebab NU terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya demi sepotong kue ekonomi. Dan terlalu penting bagi republik untuk dibiarkan terus terbakar oleh bara di dalam rumahnya sendiri. (*)

Tags: #DemokrasiOrmas#KonflikNU#MerawatJagat#NUdanNegara#OpiniTempo#TambangNUNUpbnu
Previous Post

UMP Jakarta 2026 Dijanjikan Selesai Hari Ini, Pramono Anung Pastikan Beri Insentif Transportasi hingga Air Murah

Next Post

Gus Muhaimin Tegaskan Sikap PKB: Kepala Daerah Dipilih DPRD Bukan Wacana Baru

Next Post
Gus Muhaimin Ketua DPP PKB

Gus Muhaimin Tegaskan Sikap PKB: Kepala Daerah Dipilih DPRD Bukan Wacana Baru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Gus Muhaimin PKB Konsten Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Gus Muhaimin : PKB Siap Kawal Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas 2045

9 bulan ago
SnggotaKelompok KIR Liberika Akademi berpose bersama usai memberikan paparan presentasi  di Posyandu Harapan Bunda I, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Kamis (17/10/2024). FOTO | Dok. Istimewa

5 Pelajar SMA Anggota KIR Liberika Akademi, Kenalkan Produk Cookies Booster untuk Atasi Problem Ibu Menyusui

2 tahun ago

Popular News

  • Ketua DPP PKB Bidang Penguatan Organisasi, Legislatif, dan Eksekutif, Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim. FOTO | Dok. Media PKB Jakarta

    DPP PKB Mulai Sosialisasikan SK Ketua DPW se-Indonesia, Gus Halim: Menang Itu Mudah, Mengelola Pemerintahan Tantangan Sesungguhnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Deras Bongkar Wajah Drainase Jakarta: 16 RT Terendam, Jalan Utama Lumpuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Interupsi PKB di Paripurna DPRD: RDF Rorotan Disorot, Bau Sampah Jadi Alarm Keras Kebijakan Tertunda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proyek IPA Buaran III, Siap Layani Suplai Air Bersih untuk 300 Ribu Pelanggan Baru di Jakarta Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hasbiallah Ilyas Kembali Nahkodai PKB Jakarta 2026–2031, Regenerasi dan Kerja Kerakyatan Jadi Fokus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

INFO HAJI & UMROH

Tanggul Laut Raksasa
Feature

Politik Ekologis di Tengah Arus Perubahan Iklim: Menguji Eksistensi Klaim Green Party PKB di Tengah Krisis Lingkungan

27 Januari 2026
hasbiallah Ilyas dan mohammad fauzi
PKBTalk Event

Hasbiallah Ilyas Kembali Nahkodai PKB Jakarta 2026–2031, Regenerasi dan Kerja Kerakyatan Jadi Fokus

30 April 2026
Ketua DPP PKB Bidang Penguatan Organisasi, Legislatif, dan Eksekutif, Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim. FOTO | Dok. Media PKB Jakarta
Berita PKB

DPP PKB Mulai Sosialisasikan SK Ketua DPW se-Indonesia, Gus Halim: Menang Itu Mudah, Mengelola Pemerintahan Tantangan Sesungguhnya

29 April 2026
Hengky Wijaya
Berita PKB

Bahas Ranperda P4GN, PKB Tegaskan Narkoba Musuh Kemanusiaan dan Ancaman Masa Depan Jakarta

20 Januari 2026
Hengky Wijaya
PKBTalk24

Bahas RPIP DKI 2026–2046, PKB Tekankan Industri Halal, Ekonomi Hijau, dan Keadilan UMKM Jakarta

20 Januari 2026

Newsletter

Dapatkan update Berita dan info terbaru dari PKBTalk24.com...

Category

  • Berita Eksekutif
  • Berita Parlemen
  • Berita PKB
  • Budaya Kita
  • Daerah
  • Dunia Usaha
  • Eco-Living
  • Ekbis
  • Ekonomi Syariah
  • Feature
  • Figure
  • Haji dan Umrah
  • Headline
  • Healthy Living
  • Humaniora
  • IKNNews
  • Khasanah Aswaja
  • NU Today
  • Nusantara
  • NUTrip
  • Opini
  • Pendidikan
  • PKBTalk Event
  • PKBTalk24
  • PolitisiTalks
  • Ruang Baca
  • SalebTalks
  • Santri Digital
  • UlamaTalks
  • Wawancara
  • WIBTalks
  • WITATalks
  • WITTalks
  • WomenTalks

About Us

Sebagai platform lierasi berita rintisan, PKBTalk24.com hadir dengan menggabungkan tiga unsur kebutuhan dasar pembaca, pembuat dan penyedian konten sosial media yang serba cepat dan instant, sekaligus edukasi seputar pentingnya informasi yang valid, terpercaya, utuh-menyeluruh sesuai kontek peristiwanya, selaras  kaidah-kaidah jurnalistik, sehingga nilai berita dan informasi yang disampaikan tetap valid, relevan, dan bermakna.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Copyright pkbtalk24.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event

© 2026 Copyright pkbtalk24.com