• Contact
  • Disclaimer
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Literasi Berita Terpercaya Kaya Makna
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, 21 April, 2026
  • Login
  • Register
PKBTalk24.Com
Advertisement
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
PKBTalk24.Com
No Result
View All Result
Home Feature

Bara Tambang di Rumah Besar Nahdlatul Ulama

by Redaksi
26 Desember 2025
in Feature, Opini
0
Bara Tambang di Rumah Besar Nahdlatul Ulama
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

Konflik internal PBNU mencerminkan ujian besar Nahdlatul Ulama di awal abad kedua. Dari polemik kepemimpinan hingga isu konsesi tambang, apakah NU sedang rapuh oleh sumber daya ekonomi?

Oleh: Komarudin Daid | Sekretaris DPC PKB Jakarta Barat

PKBTalk24 | Jakarta ~ Tak banyak organisasi kemasyarakatan di Indonesia yang mampu bertahan lebih dari satu abad tanpa kehilangan relevansi. Nahdlatul Ulama adalah pengecualian. Dalam usia yang telah melampaui seabad, NU bukan hanya hidup, tetapi tumbuh menjadi jangkar sosial, keagamaan, dan kebangsaan Indonesia. Karena itu, ketika konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meledak ke ruang publik, kegaduhan ini terasa lebih dari sekadar pertikaian elite organisasi.

Kisruh antara Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menjelma menjadi tontonan politik internal yang sulit disembunyikan. Pernyataan saling bantah, tafsir aturan yang saling berhadap-hadapan, serta manuver struktural yang terbuka, membuat rumah besar NU tampak gaduh dari dalam.

RelatedPosts

Politik Ekologis di Tengah Arus Perubahan Iklim: Menguji Eksistensi Klaim Green Party PKB di Tengah Krisis Lingkungan

‘PKB Harus Diawasi Terus’: Candaan Prabowo, Sinyal Politik atau Sekadar Gojlokan?

PKB Jakarta dan Transformasi Politik Kaum Santri di Ibu Kota

NU seperti kapal tua yang selama puluhan tahun berlayar menembus badai ideologi, tekanan kekuasaan, dan konflik kebangsaan. Namun kali ini, kebocoran bukan datang dari gelombang luar. Retaknya muncul di dalam geladak, di antara para pengelolanya sendiri.

Kepemimpinan dan Tafsir Kekuasaan

Konflik terbuka bermula dari rapat harian Syuriyah PBNU, 20 November 2025. Keputusan memberhentikan Ketua Umum PBNU menjadi titik balik eskalasi. Dua alasan disampaikan ke publik: undangan terhadap akademisi Amerika Serikat yang dikenal pro-Israel dalam kegiatan resmi PBNU, serta dugaan ketidakterbukaan pengelolaan keuangan organisasi.

Ketua Umum PBNU mengakui kesalahan dalam keputusan mengundang narasumber tersebut dan menyampaikan permohonan maaf. Namun permintaan itu tak mengubah keputusan. Ultimatum pengunduran diri dilayangkan. Dari sini, konflik bergeser dari isu etik menuju soal konstitusionalitas.

KH. Yahya Cholil Staquf menyebut keputusan itu inkonstitusional. Ia merujuk pada mandat Muktamar, forum tertinggi NU. Tafsir ini tak berdiri sendiri. Sejumlah kiai sepuh yang tergabung dalam Mustasyar PBNU menilai pemberhentian tersebut tak memiliki dasar organisatoris yang kuat dan mendorong islah.

Sejarah NU memang akrab dengan perbedaan tafsir. Namun biasanya, konflik diredam sebelum menyentuh ruang publik. Kali ini berbeda. Pertarungan tafsir berubah menjadi pertarungan legitimasi.

Belajar dari Gus Dur

Bagi warga NU, polemik ini memantik ingatan lama. Pada 1994, Abdurrahman Wahid—ketika itu Ketua Umum PBNU—mengunjungi Israel. Langkah tersebut menuai kecaman luas. Ia dituduh tak sensitif pada perjuangan Palestina, bahkan dicap Zionis oleh sebagian kalangan.

Namun NU memilih satu hal penting kala itu: menahan diri. Polemik Israel tidak dijadikan alasan untuk memecah organisasi. Para kiai NU sadar, konflik terbuka justru akan melemahkan NU di tengah tekanan Orde Baru yang kala itu ingin menyingkirkan Gus Dur dari PBNU. Sejarah mencatat, NU keluar dari badai itu dalam keadaan utuh.

Pertanyaan yang menggantung hari ini: mengapa kesabaran kolektif yang sama sulit ditemukan dalam konflik PBNU sekarang?

Tambang dan Ujian Ekonomi Organisasi

Di sinilah kecurigaan publik bermula. Penjelasan resmi konflik terasa belum sepenuhnya menjawab kegelisahan. Di balik polemik kepemimpinan, mencuat satu isu lain: konsesi tambang.

Bagi NU, konsesi ini adalah hal baru. Selama puluhan tahun, organisasi ini tumbuh dengan keterbatasan finansial. Sekolah, pesantren, universitas, klinik, dan rumah sakit NU berdiri bukan karena limpahan modal besar, melainkan karena daya tahan sosial.

Namun sumber daya ekonomi berskala besar memiliki logika sendiri. Ia kerap datang bersama konflik, kepentingan, dan perebutan kontrol. Tambang bukan hanya soal kesejahteraan, tapi juga soal kuasa.

Konflik PBNU hari ini memberi kesan, NU belum sepenuhnya siap menghadapi ujian baru ini. Jika belum menghasilkan apa-apa saja sudah memecah elite-nya, publik bertanya-tanya: apa yang terjadi ketika sumber daya itu benar-benar mulai menghasilkan keuntungan?

NU, Negara, dan Cermin Diri

Selama ini NU dikenal sebagai penopang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari menghadapi komunisme, ekstremisme, hingga ideologi transnasional, NU selalu berada di barisan depan menjaga republik. Banyak kalangan meyakini, melemahkan NU berarti membuka celah bagi goyahnya NKRI.

Ironisnya, kali ini NU bukan dilemahkan oleh lawan ideologis, melainkan oleh konflik internalnya sendiri.

Organisasi sebesar NU tentu tak akan runtuh hanya oleh satu konflik. Namun sejarah juga mengajarkan, perpecahan elite sering kali menjadi pintu awal kemunduran panjang. Apalagi jika konflik itu berkaitan dengan sumber daya ekonomi.

Mungkin inilah saat NU bercermin. Apakah konsesi tambang benar-benar menjadi jalan kemandirian, atau justru beban yang terlalu berat bagi organisasi berbasis moral dan kultural? Pertanyaan ini layak dijawab dengan jernih—bukan melalui pertarungan ego, melainkan kebijaksanaan kolektif.

Sebab NU terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya demi sepotong kue ekonomi. Dan terlalu penting bagi republik untuk dibiarkan terus terbakar oleh bara di dalam rumahnya sendiri. (*)

Tags: #DemokrasiOrmas#KonflikNU#MerawatJagat#NUdanNegara#OpiniTempo#TambangNUNUpbnu

RelatedPosts

Tanggul Laut Raksasa

Politik Ekologis di Tengah Arus Perubahan Iklim: Menguji Eksistensi Klaim Green Party PKB di Tengah Krisis Lingkungan

by Redaksi
27 Januari 2026
0

Krisis ekologis Indonesia menguji klaim PKB sebagai Green Party. Politik hijau ditimbang dari etika Islam, regulasi, dan keberanian dalam pengambilan...

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar

‘PKB Harus Diawasi Terus’: Candaan Prabowo, Sinyal Politik atau Sekadar Gojlokan?

by Redaksi
14 Januari 2026
0

Kelakar Presiden Prabowo soal PKB yang “harus diawasi terus” memantik tafsir politik. Cak Imin menepisnya sebagai candaan. Humor elite atau...

pkb jakarta gelar muswil

PKB Jakarta dan Transformasi Politik Kaum Santri di Ibu Kota

by Redaksi
1 Desember 2025
0

Kenaikan kursi legislatif PKB Jakarta bukan sekadar statistik. Ia merefleksikan tiga hal: Pertama, mobilisasi kultural yang konsisten. Basis NU di...

Next Post
Gus Muhaimin Ketua DPP PKB

Gus Muhaimin Tegaskan Sikap PKB: Kepala Daerah Dipilih DPRD Bukan Wacana Baru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Jubir Milenial PKB: Sistem Proporsional Tertutup, Langkah Mundur Demokrasi di Indonesia

Jubir Milenial PKB: Sistem Proporsional Tertutup, Langkah Mundur Demokrasi di Indonesia

3 tahun ago
Uwais El Qoroni

FPKB Ingatkan Gubernur Pramono: Janji Kampanye Bukan Sekadar Ucapan, RT-RW Butuh Bukti Nyata!

11 bulan ago

Popular News

  • Mescab DPC PKB Jakarta Selatan

    Ketua DPW PKB Jakarta Dihadang Golok saat Memasuki Area Muscab DPC PKB Jaksel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Muscab PKB Jaktim Dihadiri Bang Doel, Fuadi Luthfi Sentil Kinerja Pemprov: “Jangan Lambat, Warga Butuh Gerak Cepat!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Gelar Muscab Serentak se-Jakarta, Anak Muda hingga Isu Lingkungan Jadi Fokus Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu-satunya Calon Perempuan di Muscab PKB Jakbar, Puti Hasni: “Kartini Harus Diteruskan, Bukan Cuma Diperingati”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dapat Tambahan Kuota Petugas Haji dari Arab Saudi, Menag: Alhamdulillah, Ini Untuk Layanan Terbaik Jemaah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

INFO HAJI & UMROH

Mescab DPC PKB Jakarta Selatan
Berita PKB

Ketua DPW PKB Jakarta Dihadang Golok saat Memasuki Area Muscab DPC PKB Jaksel

19 April 2026
Ketua DPC PKB Jakarta Timur
PKBTalk Event

Muscab PKB Jaktim Dihadiri Bang Doel, Fuadi Luthfi Sentil Kinerja Pemprov: “Jangan Lambat, Warga Butuh Gerak Cepat!”

18 April 2026
Ketua DPW PKB Jakarta Hasbialllah Ilyas
Berita PKB

PKB Gelar Muscab Serentak se-Jakarta, Anak Muda hingga Isu Lingkungan Jadi Fokus Utama

18 April 2026
badal haji
Berita Eksekutif

“War Tiket Haji 2026” Jadi Sorotan, Pemerintah Diminta Tuntaskan Antrean dan Cegah Kecurangan

13 April 2026
Heri Kustanto, Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari FPKB
Berita Parlemen

FPKB DPRD DKI Tolak Privatisasi SPAM, Tegaskan Air Hak Dasar Rakyat

14 April 2026

Newsletter

Dapatkan update Berita dan info terbaru dari PKBTalk24.com...

Category

  • Berita Eksekutif
  • Berita Parlemen
  • Berita PKB
  • Budaya Kita
  • Daerah
  • Dunia Usaha
  • Eco-Living
  • Ekbis
  • Ekonomi Syariah
  • Feature
  • Figure
  • Haji dan Umrah
  • Headline
  • Healthy Living
  • Humaniora
  • IKNNews
  • Khasanah Aswaja
  • NU Today
  • Nusantara
  • NUTrip
  • Opini
  • Pendidikan
  • PKBTalk Event
  • PKBTalk24
  • PolitisiTalks
  • Ruang Baca
  • SalebTalks
  • Santri Digital
  • UlamaTalks
  • Wawancara
  • WIBTalks
  • WITATalks
  • WITTalks
  • WomenTalks

About Us

Sebagai platform lierasi berita rintisan, PKBTalk24.com hadir dengan menggabungkan tiga unsur kebutuhan dasar pembaca, pembuat dan penyedian konten sosial media yang serba cepat dan instant, sekaligus edukasi seputar pentingnya informasi yang valid, terpercaya, utuh-menyeluruh sesuai kontek peristiwanya, selaras  kaidah-kaidah jurnalistik, sehingga nilai berita dan informasi yang disampaikan tetap valid, relevan, dan bermakna.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2023 - 2025 pkbtalk24.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event

© 2023 - 2025 pkbtalk24.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In