Ketua DPW Perempuan Bangsa DKI, Puti Hasni, mengecam keras tayangan Xpose Uncensored Trans7 yang dinilai melecehkan pesantren dan kiai. Ia menilai permintaan maaf Trans7 belum cukup dan mendesak KPI serta Dewan Pers mengambil tindakan tegas agar ada efek jera bagi media nasional.
PKBTalk24 | Jakarta ~ Tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 pada Senin (13/10/2025) memicu gelombang kemarahan publik, terutama dari kalangan santri dan pesantren. Tayangan tersebut dinilai melecehkan martabat ulama, khususnya KH. Anwar Manshur dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Ketua DPW Perempuan Bangsa DKI Jakarta, Puti Hasni, mengecam keras tayangan itu dan menyebutnya sebagai kecerobohan fatal dunia penyiaran nasional.
“Tayangan Xpose Uncensored Trans7 tersebut sangat tendensius, sangat melecehkan pesantren dan kiai. Penggambarannya merendahkan martabat pesantren, bahkan gaya narasinya tidak mencerminkan objektivitas jurnalistik yang berimbang,” ujar Puti dalam keterangannya, Selasa (14/10/2025).
Ini Sudah Soal Martabat Dunia Pesantren
Menurut Puti, yang juga mantan Ketua Umum PP IPPNU periode 2015–2018, permintaan maaf yang disampaikan manajemen Trans7 tidak cukup untuk meredam kemarahan publik.
“Kemarahan para santri, alumni, dan masyarakat pesantren makin meluas. Ini bukan hanya tentang Lirboyo dan KH. Anwar Manshur, tapi tentang nama baik pesantren di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Ia mendesak agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Dewan Pers, dan pemerintah segera turun tangan menindak tegas Trans7 agar kejadian serupa tidak terulang.
“Media sekelas Trans7 seharusnya punya standar etik yang tinggi. Kalau dibiarkan, ini berbahaya bagi masa depan etika media nasional,” imbuhnya.
Kemarahan Publik Meluas di Media Sosial
Pasca tayangan itu beredar, media sosial dipenuhi kecaman dari publik. Di platform X (Twitter), tagar #BelaKiai, #Trans7MintaMaaf, dan #SantriBergerak sempat trending selama beberapa jam pada Selasa pagi.
Ribuan komentar juga membanjiri akun resmi Trans7 di Instagram. Banyak warganet yang menilai narasi tayangan tersebut “tidak pantas dan menyinggung dunia pesantren”.
Data yang dihimpun PKBTalk24.com menunjukkan bahwa sejak Senin malam, ada lebih dari 45 ribu unggahan di media sosial yang menyinggung kasus ini, dengan mayoritas berasal dari komunitas pesantren, alumni NU, dan aktivis muda Islam.
Efek Jera dan Tanggung Jawab Moral Media
Puti Hasni mengingatkan bahwa dunia pesantren baru saja dirundung duka akibat insiden di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, dan kini kembali dikejutkan oleh tayangan yang dianggap tidak beretika dari Trans7.
“Setelah duka Al Khoziny belum pupus, dunia pesantren dikejutkan lagi oleh peristiwa pelecehan ini. Harus ada efek jera agar media arus utama dan medsos lebih berhati-hati dalam setiap publikasinya,” tegasnya.
Menurut Puti, dunia media harus memegang nilai-nilai adab dan kehormatan, apalagi saat membahas figur ulama atau lembaga pendidikan keagamaan.
“Pesantren adalah benteng moral bangsa. Kalau media tidak peka terhadap nilai itu, maka yang rusak bukan hanya citra media, tapi juga rasa hormat publik terhadap ilmu dan guru,” tandasnya.
KPI dan Dewan Pers Diminta Bergerak
Dalam situasi ini, publik menantikan langkah tegas dari lembaga pengawas penyiaran. Hingga berita ini diturunkan, KPI Pusat belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun beberapa anggotanya menyebut telah menerima laporan pengaduan dari masyarakat terkait tayangan Xpose tersebut.
Sementara Dewan Pers juga dikabarkan tengah mengkaji unsur pelanggaran etika jurnalistik dalam konten siaran tersebut. (AKH)









