Sekjen PKB M. Hasanuddin Wahid menyerukan Gerakan Nusantara Menanam dari Titik Nol IKN. Aksi nyata menanam pohon dinilai penting untuk mencegah bencana dan menyelamatkan lingkungan Indonesia.
PKBTalk24 | Jakarta ~ Dari Titik Nol Ibu Kota Nusantara (IKN), Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), M. Hasanuddin Wahid atau yang akrab disapa Cak Udin, mengirim pesan penting bagi masa depan Indonesia: menjaga bumi harus dimulai sekarang, dan dimulai dari aksi nyata.
Pesan itu diwujudkan melalui Gerakan Nusantara Menanam, sebuah gerakan penanaman pohon yang tidak berhenti sebagai simbol seremonial, melainkan ikhtiar konkret menghadapi krisis lingkungan dan ancaman bencana yang kian nyata.
“Menanam pohon bukan sekadar seremoni. Ini langkah sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Kerusakan lingkungan adalah salah satu pemicu utama banjir bandang yang terus berulang di banyak daerah,” ujar Cak Udin, Kamis (11/12/2025).
Menurut anggota Komisi XI DPR RI itu, menjaga lingkungan tidak harus menunggu kebijakan besar. Justru, ikhtiar paling dasar seperti menanam pohon di halaman rumah, kampung, hingga ruang publik, menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan alam.
“Lingkungan harus kita rawat bersama. Mulai dari ruang hidup kita sendiri. Dari satu pohon, dampaknya bisa menyelamatkan banyak kehidupan,” tegasnya.
Titik Nol IKN, Simbol Awal Gerakan Nasional
Cak Udin menegaskan, penanaman pohon di Titik Nol IKN hanyalah simbol awal. Gerakan Nusantara Menanam, kata dia, harus terus bergulir dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia—melampaui sekat partai dan kepentingan politik.
“Deforestasi tidak hanya terjadi di Sumatera atau Kalimantan, tapi hampir di seluruh Indonesia. Karena itu, gerakan ini harus menjadi gerakan rakyat. Semakin banyak yang menanam, semakin kuat pertahanan alam kita,” katanya.
Ia berharap, ajakan menanam pohon ini menjadi momentum kebangkitan kesadaran ekologis nasional—sebuah upaya kolektif untuk memulihkan kembali hubungan manusia dengan alam.
Ancaman Nyata Kerusakan Hutan
Seruan Cak Udin bukan tanpa dasar. Data menunjukkan kondisi hutan Indonesia masih berada dalam tekanan serius. Pada tahun 2024, deforestasi netto mencapai sekitar 175.400 hektare, mencerminkan luas hutan yang hilang meski telah dikurangi upaya reforestasi.
Saat ini, luas hutan Indonesia tercatat sekitar 95,5 juta hektare atau hampir setengah dari total daratan. Namun, ancaman kebakaran hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan, serta kerusakan hutan sekunder masih terus terjadi.
Meski Kementerian Kehutanan mencatat penurunan deforestasi nasional hingga 166.450 hektare per September 2025, sejumlah lembaga lingkungan seperti WALHI memprediksi angka tersebut berpotensi melonjak hingga 600.000 hektare, seiring maraknya kebakaran hutan dan lahan. Hingga Juni 2025 saja, tercatat 8.594 hektare hutan terbakar, dengan NTT, Kalimantan Barat, dan Riau sebagai wilayah terdampak terparah.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia berimplikasi langsung pada meningkatnya risiko banjir bandang dan longsor. Menanam pohon hari ini adalah investasi lingkungan untuk masa depan Indonesia,” pungkas Cak Udin.
PKB, lanjutnya, akan terus mendorong gerakan ekologis berbasis partisipasi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah rawan bencana, sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan politik menjaga keberlanjutan bumi Nusantara. (AKH)












