Ketua DPW PKB Jakarta Hasbiallah Ilyas “dihadang” golok saat masuk Muscab PKB Jaksel. Ternyata ini bagian tradisi palang pintu Betawi, simbol komitmen PKB menjaga budaya di tengah modernitas.
PKBTalk24 | Jakarta – Suasana tak biasa mewarnai pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) DPC PKB Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026). Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Hasbiallah Ilyas, “dihadang” golok saat memasuki area acara di Hotel Amarosa, Cipete.
Namun, momen tersebut bukan ancaman, melainkan bagian dari tradisi Betawi palang pintu—atraksi budaya yang sengaja dihadirkan panitia sebagai penyambutan tamu kehormatan dalam Muscab DPC Partai Kebangkitan Bangsa Jakarta Selatan.
Atraksi ini menghadirkan pendekar Betawi dengan golok, dialog pantun, hingga seni bela diri khas yang menjadi simbol penghormatan sekaligus penjagaan nilai-nilai adat. Di tengah modernitas Jakarta, suasana kental budaya ini justru menjadi pembuka yang mencuri perhatian.
“Gelaran budaya sengaja ditampilkan sebagai pembuka acara Muscab, lantaran PKB Jakarta menempatkan seni dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan warga Betawi,” ujar Yusuf, Wakil Ketua DPW PKB Jakarta.
Budaya di Tengah Modernitas
Menurut Yusuf, langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan pesan politik dan kultural. PKB ingin memastikan bahwa laju modernisasi Jakarta tidak menggerus akar tradisi masyarakat lokal.
“PKB Jakarta terus mendorong agar modernitas tidak menggusur akar tradisi dan budaya warganya,” tegasnya.
Atraksi palang pintu dan tarian topeng yang ditampilkan dalam Muscab ini menjadi simbol komitmen tersebut—bahwa politik tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga soal menjaga identitas.
Target Politik: Dari 2 ke 4 Kursi
Di balik nuansa budaya, Muscab juga menjadi momentum konsolidasi politik. Dalam sambutannya, Ketua DPC PKB Jakarta Selatan, Darussalam, menegaskan target ambisius bagi PKB Jakarta Selatan pada Pemilu 2029.
“Jika di Pemilu 2024 PKB Jaksel berhasil meraih 2 kursi DPRD dan satu kursi DPR RI, maka di Pemilu 2029 nanti targetnya harus naik, minimal jadi 4 kursi,” ujarnya disambut tepuk tangan kader.
Ia menekankan pentingnya politik kehadiran—di mana kader tidak hanya aktif saat pemilu, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat sebagai bagian dari solusi.
“Setelah Muscab ini, kader harus turun ke masyarakat, menyerap aspirasi, dan mengawal kebijakan agar benar-benar dirasakan warga,” tambahnya.
Arah Baru: Anak Muda, Lingkungan, dan Budaya
Sementara itu, Ketua DPW PKB Jakarta, H. Hasbiallah Ilyas menegaskan komitmen PKB sebagai wadah dan rumah aspirasi anak-anak muda Jakarta, khususnya Gen-Z. Sebab menurutnya, generasi muda Gen-Z yang akan meneruskan estafet masa depan Jakarta.
“Kita-kita ini sudah pada tua. Jadi anak-anak mudalah yang akan melanjutkan perjuangan kita nantinya,”ujar Hasbi.
Lebih lanjut, Hasbiallah Ilyas, yang kini juga anggota DPR RI dari Dapil 1, Jakarta Timur, mengatakan jika PKB Jakarta sudah sejak Pemilu 2024 menyadari pentingnya anak-anak muda tampil dan berani memilih berkarir lewat jalur politik.
“Terbukti dari 10 anggota kader PKB Jakarta yang berhasil duduk di kursi DPRD DKI Jakarta saat ini, dua di antaranya masih berusia di bawah 23 tahun,”ujar Hasbil.
Hasbiallah Ilyas pun mengajak generasi muda, terutama Gen-Z untuk terlibat aktif dalam isu-isu seputar kebijakan pembangunan kotanya dan menjadikan PKB sebagai rumah politiknya.
Komitmen lain yang terus dijaga dari PKB adalah kepedulian terhadap isu lingkungan, sebab sejak berdirinya PKB telah mendeklarasikan diri sebagai “Green Party” yang selalu konsisten mendorong kebijakan yang mendukung Pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkunga, termasuk di wilayah Jakarta.
Dengan menggabungkan budaya, politik, dan isu masa depan kota yang ramah terhadap lingkungan, PKB Jakarta Selatan mencoba menghadirkan wajah politik yang lebih dekat dengan masyarakat—tidak hanya rasional, tetapi juga emosional dan kultural. (AKH)










