Musyawarah Kubro NU di Pesantren Lirboyo menetapkan tenggat waktu islah untuk menyelesaikan konflik PBNU. Jika gagal, muktamar netral hingga Muktamar Luar Biasa menjadi opsi konstitusional.
PKBTalk24 | Kediri — Musyawarah Kubro bertajuk Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama resmi digelar di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Ahad (21/12/2025). Forum akbar para kiai sepuh, mustasyar, serta pengurus NU dari seluruh Indonesia ini menjadi momentum penting dalam upaya meredakan konflik internal yang belakangan mencuat ke ruang publik.
Musyawarah diawali dengan Istighatsah yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus. Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Kiai Kafa menyampaikan harapan besar agar Lirboyo menjadi titik akhir dari kemelut yang melanda NU.
“Mudah-mudahan kemelut Nahdlatul Ulama puncaknya di Lirboyo. Setelah di Lirboyo ini mudah-mudahan selesai,” ujarnya.
Ratusan PWNU–PCNU Hadir, Musyawarah Berjalan Dinamis
Setelah pembukaan, panitia meminta Rais Syuriyah dan Ketua PWNU yang hadir untuk maju ke depan forum. Atas kesepakatan peserta, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh ditunjuk memimpin musyawarah penyerapan aspirasi dari PWNU, PCNU, hingga PCINU dari berbagai negara.
Data panitia mencatat, 521 PWNU dan PCNU hadir secara fisik, termasuk PCINU Arab Saudi yang terbang khusus ke Indonesia. Sementara 197 PWNU dan PCNU lainnya mengikuti secara daring. Musyawarah berlangsung dinamis selama kurang lebih dua jam, dengan perwakilan wilayah barat, tengah, timur Indonesia, serta luar negeri diberi ruang menyampaikan pandangan.
Di lokasi terpisah namun berdekatan, para mustasyar dan sesepuh NU juga menggelar musyawarah tersendiri. Usai Musyawarah Kubro ditutup, para mustasyar dan kiai sepuh memasuki forum utama untuk membacakan hasil kesepakatan.
Tiga Keputusan Penting Musyawarah Kubro
Forum Musyawarah Kubro kemudian menetapkan tiga poin utama sebagai jalan keluar konstitusional bagi NU:
-
Memohon kedua belah pihak melakukan islah dengan batas waktu paling lambat tiga hari, terhitung sejak Ahad, 21 Desember 2025 pukul 12.00 WIB.
-
Jika islah tidak tercapai, mandat diserahkan kepada para mustasyar untuk membentuk panitia muktamar yang netral dalam waktu maksimal satu hari setelah batas akhir islah.
-
Apabila dua opsi tersebut tidak terpenuhi, peserta sepakat mencabut mandat dan mengusulkan penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB) berdasarkan kesepakatan PWNU dan PCNU yang hadir, paling lambat sebelum keberangkatan kloter pertama jamaah haji Indonesia.
“Keputusan ini dibuat dengan sebenar-benarnya berdasarkan Musyawarah Kubro dan ditandatangani oleh peserta, baik yang hadir langsung maupun melalui Zoom,” kata KH Ubaidullah Shodaqoh saat melaporkan hasil musyawarah kepada para mustasyar dan kiai sepuh.
Gus Yahya Nyatakan Siap Islah dan Patuh Keputusan Forum
Dalam forum tersebut, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf beserta jajaran PBNU hadir dan diberi kesempatan menyampaikan tanggapan. Sementara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tidak hadir dalam Musyawarah Kubro ini.
Gus Yahya menegaskan keterbukaannya untuk melakukan klarifikasi dan tabayun atas berbagai tudingan yang dialamatkan kepadanya.
“Saya senantiasa terbuka untuk klarifikasi dan tabayun, dengan menghadirkan semua bukti dan saksi yang diperlukan,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk berislah secara benar.
“Saya siap untuk berislah, binaan ‘alal haq, bukan binaan ‘alal bathil,” tegasnya.
Lebih jauh, Gus Yahya menyatakan patuh sepenuhnya terhadap kesepakatan PWNU dan PCNU serta arahan para mustasyar.
“Saya taslim kepada apa yang telah disepakati oleh PWNU dan PCNU seluruh Indonesia, serta taujihat para mustasyar,” ujarnya.
Menanggapi kesepakatan islah, Gus Yahya mengaku telah menghubungi Rais Aam PBNU untuk meminta waktu bertemu.
“Saya sudah mengirim pesan dan akan menunggu sampai 3×24 jam. Setelah itu saya akan melapor kembali,” pungkasnya.
Hadir Para Tokoh dan Sesepuh NU
Musyawarah Kubro ini dihadiri sejumlah tokoh dan sesepuh NU, antara lain KH Ma’ruf Amin (via Zoom), KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Said Aqil Siroj, hingga KH Muhammad Nuh Addawami. Hadir pula jajaran Rais Syuriyah, Katib, serta pengurus PWNU, PCNU, dan PCINU se-Indonesia, baik luring maupun daring.
Sebagai catatan, Musyawarah Kubro Lirboyo merupakan tindak lanjut pertemuan para Mustasyar dan Sesepuh NU yang sebelumnya digelar di Pesantren Al-Falah Ploso (30 November 2025) dan Pesantren Tebuireng Jombang (6 Desember 2025), menyikapi dinamika PBNU yang mencuat ke publik sejak beredarnya risalah Rapat Harian Syuriyah pada 20 November 2025. (AKH)











