“Ini adalah pendekatan keagamaan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup,” ujar Nasaruddin.
PKBTalk24 | Surabaya ~ Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, menyampaikan gagasan segar dalam dunia pendidikan keagamaan saat menjadi narasumber pada kegiatan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) yang digelar PBNU di Yayasan Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Kamis (17/7/2025).
Di hadapan Rais ‘Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, serta para kiai dan ulama se-Indonesia, Menag memperkenalkan dua pendekatan baru yang tengah dikembangkan Kementerian Agama: Ekoteologi dan Kurikulum Cinta.
Ekoteologi: Menyatukan Spirit Agama dan Kepedulian Lingkungan
Menurut Menag, Ekoteologi adalah pendekatan pendidikan keagamaan yang mendorong kesadaran ekologis berbasis spiritualitas. Dengan kata lain, pendidikan agama tak cukup bicara surga dan neraka—tapi juga soal bumi yang harus dijaga bersama.
“Ini adalah pendekatan keagamaan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup,” ujar Nasaruddin.
Kurikulum Cinta
Di samping ekoteologi, Kementerian Agama juga mendorong lahirnya Kurikulum Cinta—sebuah pendekatan pendidikan yang menanamkan nilai kasih sayang, empati, dan toleransi sebagai inti pembelajaran.
“Ini relevan untuk mengatasi polarisasi dan kekerasan sosial. Agama seharusnya mengajarkan cinta, bukan kebencian,” tegas Menag.
Ekosistem Unggul untuk Pendidikan Masa Depan
Menag menilai pesantren sebagai tempat paling tepat untuk menjadi pelopor dua pendekatan ini. Sebab, pesantren adalah ekosistem pendidikan lengkap yang memadukan ilmu, spiritualitas, dan pengabdian sosial.
“Pesantren punya keistimewaan karena mengajarkan kontemplasi—kemampuan merenung secara mendalam dan menjawab persoalan dengan hikmah,” ucapnya.
Dalam era pendidikan yang makin mekanistik dan kompetitif, nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren dinilai justru menjadi kekuatan tersendiri.
Pendidikan Pesantren untuk Indonesia Masa Depan
Menag Nasaruddin menegaskan bahwa Ekoteologi dan Kurikulum Cinta harus menjadi narasi besar pesantren Indonesia di masa mendatang. Tak hanya untuk mencetak ulama yang ‘alim, tapi juga yang peka terhadap tantangan zaman—dari krisis lingkungan hingga degradasi moral.
“Pesantren harus tampil sebagai agen perubahan yang mampu menjawab tantangan masa depan dengan nilai-nilai luhur,” pungkasnya.
PBNU Dorong Transformasi Wawasan Keulamaan
Kegiatan PPWK PBNU sendiri menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas para ulama dalam menjawab problem-problem aktual umat dan bangsa. Kehadiran Menag di tengah para ulama menjadi sinyal kuat sinergi antara negara dan ormas Islam dalam membangun masa depan pendidikan keagamaan yang berakar dan berwawasan luas. (AKH)