Danantara menyiapkan agenda besar reformasi BUMN mulai 2026, termasuk pengurangan jumlah perusahaan, penguatan kinerja, dan peningkatan dividen bagi pemegang saham.
PKBTalk24 | Jakarta ~ Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersiap menjalankan agenda besar reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai tahun 2026. Langkah ini diproyeksikan menjadi babak baru penataan BUMN agar lebih efisien, sehat, dan konsisten menciptakan nilai ekonomi bagi negara maupun pemegang saham.
Dalam dokumen Danantara Economic Outlook 2026, disebutkan bahwa reformasi akan difokuskan pada BUMN-BUMN besar yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sejumlah bank pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dinilai berada pada posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan, seiring menurunnya biaya dana dan membaiknya pertumbuhan kredit.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga dipandang siap memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada pemegang saham, terutama melalui optimalisasi aset dan penguatan strategi bisnis di sektor digital.
Kredibilitas Mulai Terbangun
Danantara menilai kredibilitasnya di mata pasar mulai terbentuk, seiring berjalannya upaya pemulihan di sejumlah BUMN bermasalah. Restrukturisasi di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), serta PT Timah Tbk (TINS) disebut menjadi bukti awal bahwa agenda reformasi mulai menunjukkan hasil.
“Pasar telah merespons secara positif terhadap pemulihan beberapa BUMN, sebagaimana dibuktikan oleh kenaikan tajam harga saham. Investor menghargai kemajuan restrukturisasi yang nyata,” tulis Danantara dalam dokumen tersebut.
Presiden RI Prabowo Subianto secara eksplisit menetapkan target ambisius untuk memangkas jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 200 perusahaan. Namun, Danantara menegaskan bahwa langkah ini harus dipahami sebagai program multi-tahun, bukan sekadar agenda korporasi jangka pendek.
Bagi pasar, jumlah entitas yang lebih sedikit diyakini akan mengurangi konflik mandat antar-perusahaan, menyederhanakan pengambilan keputusan bisnis, serta mendorong konsistensi strategi jangka panjang.
“Entitas yang lebih ramping dan fokus berpotensi menghasilkan pengembalian yang lebih besar bagi pemegang saham, terutama dalam bentuk dividen,” tulis Danantara.
Dampak Luas ke Ekonomi Nasional
Danantara mencatat, total aset BUMN secara kolektif mencakup lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia. Artinya, perbaikan operasional BUMN akan berdampak langsung terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas masyarakat juga sangat bergantung pada BUMN—mulai dari pasokan listrik oleh PT PLN, distribusi energi melalui PT Pertamina, transportasi udara oleh Garuda Indonesia, hingga layanan keuangan yang dipercayakan kepada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Ke depan, Danantara menargetkan BUMN menjadi entitas yang lebih tangguh menghadapi dinamika global, seperti fluktuasi harga komoditas dan volatilitas pasar keuangan, sekaligus tetap berkontribusi pada pembangunan nasional. (AKH)








