Jumat, 29 Agustus, 2025
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
NEWSLETTER
PKBTalk24.Com
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
PKBTalk24.Com
No Result
View All Result
Home Feature

Gus Miftah Korban, Netizen Tertipu dan Makna Hermeneutis Goblok

by Redaksi
1 Juni 2025
in Feature, Opini
0
Muncul Desakan Gelar MLB NU, Usai Pemecatan KH Marzuki Mustamar dari Ketua PWNU Jatim

KH Imam Jazuli, Pengasuh Ponpes Bima 2 Cirebon

0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

Selain itu, juga korban orang-orang yang pansos dan kemungkinan besar korban dan orang yang sedang cari simpati dengan berdonasi dan lainnya, semakin viral semakin sexy dan menguntungkan bagi mereka, netizen hanya kebawa suasana atas keberhasilan para konten creator atau pansos mendramatisir keadaan.

Oleh : KH. Imam Jazuli, Lc. MA | Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat. *

 

PKBTa;k24 | Cirebon ~ Kapitalisme modern tidak hanya soal perputaran modal, perdagangan dan pasar bebas, tetapi cuan juga bisa diproduksi dari media sosial (medsos) dengan memobilisasi massa (netizen), pendapat ini jauh hari disampaikan oleh Walter Benjamin, dalam salah satu karyanya Profanations, Zone Books; 2007, ketika fenomena awal media sosial ditemukan.

Selanjutnya menurut Walter, kapitalisme jenis baru ini menjadikan manusia terhipnotis oleh suatu kondisi sehingga ia mempengaruhi alam bawa sadarnya. Terlebih jika objek yang diperalat itu soal kesewenangan orang kuat pada yang lemah.

RelatedPosts

PBNU dan Ujian Integritas di Tengah Kasus Kuota Haji

Politik Silaturahim: Jalan Sunyi PKB Jakarta di Tengah Hiruk-Pikuk Politik Transaksional

Runtuhnya Pilar Sekolah Swasta : Refleksi atas Kebijakan Populis di Jawa Barat

Dalam kondisi seperti itu, kapitalisme model baru ini akan memisahkan hampir segala hal. Memisahkan realitas ke absurditas, memisahkan humanisme ke dehumanisme, memisahkan penghayatan yang kontemplatif ke kekerasan yang menindas, bahkan fenomena ini membuat kebenaran dengan versi baru, dan orang tak bisa lagi membedakan mana realitas sesungguhnya dan kritis. Begitu ada peluang untuk menghujat, ia tak bisa berhenti untuk menghujat, kendati sumber masalahnya sebenarnya sudah terselesaikan.

Mungkin gambaran di atas bisa disematkan pada kasus keselio lidahnya Gus Miftah pada penjual es, Pak Sonhaji. Kendati pelaku sudah minta maaf dan korban sudah memaafkan, tapi haters dari netizen masih dimanfaatkan tangann gelap kapitalisme. Maka dari sudut pandang ini, Gus Miftah hanya korban para konten kreator yang mencari cuan dari keseleo lidah bercandanya yang model tablig jalanan.

Selain itu, juga korban orang-orang yang pansos dan kemungkinan besar korban dan orang yang sedang cari simpati dengan berdonasi dan lainnya, semakin viral semakin sexy dan menguntungkan bagi mereka, netizen hanya kebawa suasana atas keberhasilan para konten creator atau pansos mendramatisir keadaan.

Kenapa dari sudut pandang ini penting menjadi catatan? Sebab di luar sana, faktanya banyak orang yang nasibnya lebih memprihatinkan dan susah dari Pak Sonhaji dan itu tidak tersentuh, serta terperhatikan, masalahnya mereka tahu karena tidak akan viral dan menguntungkan. Selain daripada itu, nyatanya dan banyak tokoh agama yang juga menggunakan kata “goblok” bahkan lebih sadis tapi tak menjadi soal.

Mungkin satu-satunya yang membedakan adalah saat itu Gus Miftah menjadi pejabat publik dan Pilpres baru saja selesai, dan Gus Miftah berada di kubu yang menang. Tapi bagaimanapun masalah harus ditempatkan secara adil.

Selain keikutsertaan para kapitalis jenis baru ini, dalam pemaknaan dan diksi kata “goblok.” Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya sebagai sifat bodoh atau tuli. Dengan begitu, diksi goblok bisa ditarik ke dalam ilmu psikologi, sebagai tekanan verbal (Nevid, 2021).

Masalahnya, apa benar kata goblok selalu berkonotasi negatif? Jawabannya bisa inklusif dan relatif. Misalnya, kebodohan dalam tradisi Timur dianggap wacana yang telah berumur ribuan tahun. Kebodohan alias Avidya dianggap sebagai sarana bagi Brahman untuk menciptakan penampakan dunia.

Madhusudana dan Advaita sepakat bahwa kebodohan itu tidak bermula, bersifat positif, dan pengetahuan yang tak dapat dihapus. Kebodohan apapun, termasuk kebodohan terhadap tali yang jelas-jelas memiliki permulaan dalam waktu, tidaklah memiliki permulaan. Sebaliknya, kebodohan merupakan asal-usul material dunia fana ini (McGreal, 2024).

Pengertian kebodohan mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman. Zaman klasik telah digantikan zaman modern yang konon lebih kritis. Ketika cara pandang dunia didominasi oleh rasionalisme, kebodohan pun diartikan sebagai non-rasional. Setiap orang yang tidak rasional, tidak memiliki wawasan dan pengetahuan, maka ia menyedihkan.

Pergeseran psikologis semacam ini telah dikaji secara kritis ole Michel Foucault (1961) dalam bukunya Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason. Foucault menemukan bahwa evolusi makna kegilaan telah berkembang dari waktu ke waktu.

Menurut Foucault, pada masa klasik, orang gila adalah mereka yang antisosial, seperti pelacur, gelandangan, penghujat, dan lain-lain. Di abad pertengahan, orang gila bukan lagi antisosial melainkan para penderita penyakit kusta.

Pada era Pencerahan, orang gila bukan lagi yang antisosial dan penderita kusta melainkan mereka yang memiliki kebijaksanaan untuk mengungkapkan perbedaan. Dan pada zaman modern, orang gila adalah orang yang terkena penyakit mental.

Perkembangan makna bodoh sama halnya dengan perkembangan makna gila. Pada mulanya, menyebut orang lain tidak memiliki kapasitas intelektual yang cukup diartikan dengan tujuan positif. Misalnya, Al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la dalam kitabnya Thabaqat Al-Hanabilah menceritakan profil Abu Turab Al-Nakhsyabi Al-Shufi Askar bin Al-Hushain. Al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la mengutip cerita dari Abdullah bin Ahmad, yang mengisahkan bahwa pada suatu hari Abu Turab datang kepada ayahnya.

Lalu ayah Abdullah bin Ahmad itu mengatakan: “Fulan Dha’if, Fulan Tsiqah”. Abu Turat protes: “Syaikh, tolong jangan menghina para ulama.” Ayah Abdullah bin Ahmad itu menoleh ke arah Abu Turab dan berkata: “Celakalah kamu. Ini nasihat, bukan gibah!” (Hadusyi, 2011).

Dalam konteks kajian ilmu hadits, Jarhu wa Ta’dil, tersebut menyebut orang lain sebagai Dha’if alias lemah akal, bahkan antisosial, adalah penilaian yang lazim terjadi. Ada toleransi, karena tujuannya yang positif.

Menyikapi Konteks dengan Bijaksana

Dalam konteks ceramah GM, menyebut Bapak Sonhaji, si penjual es teh, sebagai goblok, perlu disikapi dengan lebih bijaksana. Jika gila adalah label sosial yang terus berkembang menurut Foucault, maka kata goblok juga demikian. Setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk memaknai.

Pertama-tama, mari kita lihat bagaimana GM dengan terbuka meminta maaf, bukan saja pada pak Sonhaji si penjual es teh, tetapi kepada publik. Ini menandakan GM menyadari bahwa kata goblok bukan semata urusan personal melainkan juga publik dan politis, terkait dengan identitasnya sebagai tokoh agama dan pejabat negara.

Kedua, dari sudut pandang Bapak Sonhaji, terdapat konteks lain yang berupa silaturahmi. Bukan hanya Pak Sonhaji yang tidak saja menerima kunjungan GM ke rumahnya, melainkan ia sendiri juga berkunjung ke rumah GM di Yogyakarta. Hal ini membutuhkan penafsiran baru yang lebih bijaksana.

Peristiwa GM dan Sonhaji sebenarnya telah berkembang dari urusan sosial-politis menjadi teks sosial-politis. Artinya, bukan hanya publik yang berhak menafsirkannya. Sebaliknya, GM dan Sonhaji dengan cara yang sama juga memiliki hak menafsirkan peristiwa yang mereka berdua jalani.

Dalam konteks tersebut, posisi GM dan Sonhaji lebih otoritatif dalam menafsirkan pengalaman mereka sendiri. Untuk itulah, netizen selayaknya memberikan panggung kesempatan bagi GM maupun Sonhaji untuk memaknai pengalaman mereka sendiri. Dengan begitu, kontroversi ini lebih sejuk dan kehidupan kembali harmonis. Tetapi tangan gelap kapitalisme terus gerilya, karena itu kita harus waspada. Wallahu’alam bishawab.[*]

____________

KH. Imam Jazuli, Lc., MA., |  Penulis Pengantar adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok 8 Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

RelatedPosts

Arab Saudi Mulai Batasi Akses ke Makkah untuk Persiapan Musim Haji 2025

PBNU dan Ujian Integritas di Tengah Kasus Kuota Haji

by Redaksi
11 Agustus 2025
1

Penting bagi PBNU—melalui Ketua Umum dan Rais Aam—untuk menunjukkan keteladanan moral. Jika ada pengurus yang disebut-sebut dalam kasus ini, langkah...

H. Tri Waluyo SH., Anggota FPKB DPRD DKI Jakarta

Politik Silaturahim: Jalan Sunyi PKB Jakarta di Tengah Hiruk-Pikuk Politik Transaksional

by Redaksi
28 Juli 2025
0

  Politik silaturahim sejatinya adalah politik kehadiran. Ia menjunjung tinggi tradisi sosial masyarakat Indonesia yang kian terkikis oleh budaya digital...

Pemerintah kembali hidupkan jurusan di SMA

Runtuhnya Pilar Sekolah Swasta : Refleksi atas Kebijakan Populis di Jawa Barat

by Redaksi
16 Juli 2025
0

KDM—mengambil langkah kontroversial: menaikkan jumlah siswa per rombongan belajar (rombel) di SMA/SMK negeri dari 36 menjadi 50 orang per kelas....

Next Post
FGD Pra MLB NU Nilai Ketum PBNU Gus Yahya Melanggar AD/ART NU

FGD Pra MLB NU Nilai Ketum PBNU Gus Yahya Melanggar AD/ART NU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

PKB: Puan Tawari Gus Imin Gabung Koalisi dan Jadi Cawapres Ganjar

PKB: Puan Tawari Gus Imin Gabung Koalisi dan Jadi Cawapres Ganjar

2 tahun ago
Sekjen PKB: Status Hukum Gus Muhaimin Terang Benderang, Bersih!

Sekjen PKB: Final, PKB Ikut Gerindra Dukung Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta

1 tahun ago

Popular News

  • OTT KPK Wamenaker Noel

    Drama OTT Wamenaker Noel: KPK Tetapkan 11 Tersangka Pemerasan Sertifikasi K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB DKI Dukung Alih Fungsi Sementara Trotoar TB Simatupang: Tetap Jaga Hak Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Muhaimin Terima Bintang Mahaputera Adipurna dari Presiden Prabowo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil H. Sutikno, Caleg Incumbent dari PKB Raih Suara Terbanyak di Dapil 7 Jakarta Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Ipul: DTSEN Jadi Senjata Presiden Prabowo Pastikan Bansos Tepat Sasaran, 2 Juta Penerima Nakal Dicoret!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

INFO HAJI & UMROH

Gus Muhaimin Terima Bintang Mahaputera Adipurna dari Presiden Prabowo
Berita Eksekutif

Gus Muhaimin Terima Bintang Mahaputera Adipurna dari Presiden Prabowo

25 Agustus 2025
Pramono Anung & Menko PMK Luncurkan RS Royal Batavia Cakung, Siap Beroperasi 2027
Daerah

Pramono Anung & Menko PMK Luncurkan RS Royal Batavia Cakung, Siap Beroperasi 2027

25 Agustus 2025
PKB DKI Dukung Alih Fungsi Sementara Trotoar TB Simatupang: Tetap Jaga Hak Pejalan Kaki
Daerah

PKB DKI Dukung Alih Fungsi Sementara Trotoar TB Simatupang: Tetap Jaga Hak Pejalan Kaki

25 Agustus 2025
Info Haji 2024: Indonesia dapat 241.000 Kuota, 554 Kloter Jemaah Haji Reguler, Siap Berangkat Mulai 12 Mei 2024
Ekbis

Panja RUU Haji Setuju Petugas Embarkasi Bisa Nonmuslim, Tapi Wajib Muslim di Arab Saudi

23 Agustus 2025
OTT KPK Wamenaker Noel
Berita Eksekutif

Drama OTT Wamenaker Noel: KPK Tetapkan 11 Tersangka Pemerasan Sertifikasi K3

22 Agustus 2025

Newsletter

Dapatkan update Berita dan info terbaru dari PKBTalk24.com...

Category

  • Berita Eksekutif
  • Berita Parlemen
  • Berita PKB
  • Budaya Kita
  • Daerah
  • Dunia Usaha
  • Eco-Living
  • Ekbis
  • Ekonomi Syariah
  • Feature
  • Figure
  • Haji dan Umrah
  • Headline
  • Healthy Living
  • Humaniora
  • IKNNews
  • Khasanah Aswaja
  • NU Today
  • Nusantara
  • NUTrip
  • Opini
  • Pendidikan
  • PKBTalk Event
  • PKBTalk24
  • PolitisiTalks
  • SalebTalks
  • Santri Digital
  • UlamaTalks
  • Wawancara
  • WIBTalks
  • WITATalks
  • WITTalks
  • WomenTalks

About Us

Sebagai platform lierasi berita rintisan, PKBTalk24.com hadir dengan menggabungkan tiga unsur kebutuhan dasar pembaca, pembuat dan penyedian konten sosial media yang serba cepat dan instant, sekaligus edukasi seputar pentingnya informasi yang valid, terpercaya, utuh-menyeluruh sesuai kontek peristiwanya, selaras  kaidah-kaidah jurnalistik, sehingga nilai berita dan informasi yang disampaikan tetap valid, relevan, dan bermakna.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2023 - 2025 pkbtalk24.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event

© 2023 - 2025 pkbtalk24.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In