• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
  • Register
PKBTalk24.Com
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event
No Result
View All Result
PKBTalk24.Com
No Result
View All Result
Home PKBTalk24

PBNU di Persimpangan Jalan: Antara Visi Besar dan Kemelut Internal

Refleksi kritis atas dinamika PBNU pasca satu abad NU: menimbang visi global, netralitas politik, dan tantangan menjaga keteduhan organisasi.

Redaksi by Redaksi
16 Desember 2025
in PKBTalk24
0
PBNU Serukah perdamian dunia
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

@kholilahmad_AKHPerubahan adalah keniscayaan bagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Namun perubahan selalu menuntut keseimbangan antara visi ke depan dan akar tradisi yang menghidupinya. Di titik inilah dinamika yang tengah berlangsung di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi relevan untuk dicermati secara jernih dan proporsional.

Oleh : Ahmad Kholil * 

 

PKBTalk24 | Jakarta ~ Nahdlatul Ulama telah melewati satu abad perjalanan sejarahnya sebagai organisasi keagamaan yang lahir dari kesadaran kultural, spiritual, dan kebangsaan. Dalam rentang waktu sepanjang itu, NU berkali-kali diuji oleh perubahan zaman, termasuk godaan kekuasaan dan dinamika politik. Hari ini, di tengah upaya menjadikan NU lebih relevan di panggung global, PBNU kembali dihadapkan pada ujian konsistensi: bagaimana menjaga visi besar tanpa mengabaikan keteduhan rumah sendiri.

Sejak terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021, KH Yahya Cholil Staquf—Gus Yahya—datang dengan visi besar dan penuh percaya diri. Ia mengusung jargon inklusif, “NU milik semua”, sembari merangkul beragam unsur dan latar belakang politik ke dalam struktur kepengurusan, khususnya di jajaran Tanfidziyah.

Pada satu sisi, langkah itu bisa dibaca sebagai upaya menjadikan NU lebih terbuka, modern, dan relevan dengan tantangan zaman. Namun pada sisi lain, terutama karena momentum pelantikannya berdekatan dengan tahun-tahun politik nasional, kebijakan tersebut tak terhindarkan dari tafsir publik sebagai bagian dari politik balas budi—terutama atas dukungan pemerintah dalam kontestasi muktamar.

Di titik inilah problem mulai mengendap. NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah memiliki tradisi panjang menjaga jarak dengan kekuasaan praktis. Hubungan historis NU dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—sebagai wadah aspirasi politik warga nahdliyin—memang tidak pernah bebas dari dinamika, tetapi selama ini dijaga dalam koridor saling memahami peran. Maka ketika PBNU di bawah Gus Yahya memilih mengambil jarak tegas dari PKB dengan dalih “kembali ke Khittah 1926”, sembari secara bersamaan menunjukkan keberpihakan politik yang ceto welo-welo (terang benderang) dalam praktik, publik pun membaca adanya paradoks.

PBNU menyatakan netral dalam Pilpres 2024. Namun di lapangan, baik sikap Rais Aam maupun jajaran Tanfidz sering terbaca “mindik-mindik”—halus tetapi jelas—mengarah pada dukungan politik tertentu. Ini bukan rahasia umum. Netralitas yang diklaim di forum formal, berhadapan dengan praktik politik yang kasatmata di ruang publik.

Di tingkat global, Gus Yahya tampil dengan narasi yang tak kalah ambisius: “mewujudkan peradaban dunia” dan “perdamaian global”. Untuk menopang visi ini, PBNU merekrut figur-figur internasional sebagai penasihat, salah satunya Charles Holland Taylor sebagai penasihat khusus bidang hubungan internasional. Dari sudut pandang profesionalisme, langkah ini bisa dipahami sebagai upaya memperluas jejaring global NU.

Namun kontroversi mencuat ketika PBNU mengundang Peter Berkowitz—peneliti senior Hoover Institution, Universitas Stanford—yang dikenal memiliki pandangan pro-Israel, sebagai pembicara utama dalam Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) PBNU (2024). Undangan ini memantik kegelisahan luas di kalangan warga NU, terutama di tengah eskalasi konflik global: perang Rusia–Ukraina dan agresi Israel terhadap Palestina.

Di sinilah ironi itu terasa telanjang. PBNU lantang mengusung narasi “perdamaian dunia”, tetapi justru memicu kegaduhan serius di internal organisasinya sendiri. Seruan damai yang digaungkan ke luar, berbalik menjadi gema sumbang ketika konflik di dalam rumah besar NU tak kunjung terkelola.

Pertanyaan mendasarnya kemudian muncul: apakah Gus Yahya sepenuhnya menyadari konsekuensi logis dari memasukkan begitu banyak kelompok kepentingan—termasuk aktor politik dan figur asing—ke dalam tubuh organisasi sebesar PBNU? Organisasi ini bukan sekadar entitas administratif modern, melainkan rumah kultural jutaan warga nahdliyin yang sensitif terhadap arah moral, simbol, dan teladan.

Ketika perbedaan pendapat tidak dikelola dengan kearifan tradisi NU—musyawarah, tabayun, dan penghormatan pada ulama sepuh—PBNU justru terseret dalam pusaran polemik yang berlapis. Pernyataan-pernyataan elite kerap muncul dengan kesan kuat tanpa koordinasi, keluar dari watak NU yang selama ini dikenal moderat, teduh, dan berwibawa. Alih-alih menyejukkan, respons PBNU terhadap berbagai isu justru memantik kegaduhan di ruang media sosial.

Analisis lain menyebut struktur PBNU di bawah Gus Yahya terlalu akademis dan elitis, kurang mengakar ke basis pesantren dan kultural NU. Kepercayaan diri yang berlebihan dalam meramu struktur kepengurusan akhirnya berbuah disharmoni. NU seolah kehilangan suara kolektifnya dalam isu-isu etik kebangsaan.

Masuk pusaran isu rasuah

Masalah kian kompleks ketika kasus Bendahara Umum PBNU, Mardani Maming, yang terjerat kasus tindak pidana korupsi (2022-2023), ini menjadikan NU masuk dalam pusaran isu rasuah yang tak kunjung mereda. Terlepas dari asas praduga tak bersalah. Bagi NU, ini bukan sekadar persoalan hukum individu, melainkan pukulan moral yang menampar wajah organisasi ulama. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modernnya, NU harus menanggung malu kolektif.

Belum reda luka itu, muncul kasus dugaan penyimpangan pengelolaan dana haji yang menyeret nama kerabat struktur pengurus NU. Belum lagi wacana konsesi tambang untuk ormas keagamaan yang memantik perdebatan tajam. PBNU yang menerima konsesi tersebut tak terakkan memantik kecurigaan publik: jangan-jangan sebagian fungsionaris Tanfidz kini lebih sibuk mengurus bisnis ketimbang khidmah organisasi. Pertanyaan ini mungkin bernada “nakal”, tetapi sulit dihindari selama transparansi pengelolaan tambang tidak dibuka secara terang ke publik dan tidak ditegaskan bahwa seluruh proses ditangani profesional independen.

Di titik ini, kecurigaan politik pun menguat. Keberpihakan PBNU dalam kontestasi politik, sembari menjauh dari PKB sebagai “bayi ideologis” warga nahdliyin, menimbulkan tanya besar: adakah agenda tersembunyi untuk menyapih basis kultural NU dari saluran politiknya sendiri?

Puncak kemelut terjadi ketika Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mencopot Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum Tanfidziyah sejak 26 November 2025. Alasannya serius: dianggap tidak peka terhadap isu jaringan Zionis dan dinilai melanggar tata kelola keuangan organisasi. Namun Gus Yahya menolak keputusan itu dan menyatakan dirinya masih sah secara hukum dan konstitusi organisasi.

NU pun terbelah dalam tafsir: antara legitimasi struktural-formal dan otoritas moral keulamaan. Inilah ujian terbesar NU pasca satu abad usianya. Apakah PBNU hendak sepenuhnya menjadi organisasi modern yang tunduk pada logika AD/ART semata, atau kembali menempatkan nasihat dan kebijaksanaan ulama sepuh sebagai jangkar etik pengambilan keputusan?

Keduanya tentu bukan pilihan yang saling meniadakan. Tetapi jika tidak dipikirkan dengan logika yang jernih dan kebijaksanaan kolektif, NU berisiko dipersepsi telah terseret ke arus politik dan budaya kekuasaan yang dangkal—sibuk berebut posisi dan pengaruh, lupa pada peta jalan khidmah.

Padahal, NU bukan sekadar organisasi massa. Ia adalah warisan ulama, para pewaris nabi. Ketika rumah besarnya terus bergemuruh oleh konflik internal, seruan moral NU—tentang keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian—akan terdengar semakin lirih, bahkan kembali memantul sebagai kritik untuk dirinya sendiri. Wallahu ‘alam bish-shosab. (***)

__________

  • Penulis adalah Pimimpin Redaksi PKBTalk24.Com, pemerhati lingkungan, sosial masyarakat, dan kebijakan publik di Jakarta
Tags: #DemokrasiInternal#EtikaOrganisasi#Khittah1926#KolomOpini#NahdlatulUlama#NUdanPolitik#OpiniPublik#RefleksiKebangsaan#UlamaDanKebangsaanpbnu
Previous Post

Uwais El Qoroni: Hunian Jakarta Jangan Jauhkan Anak Muda dari Dunia Kerja dan Kampung Halaman

Next Post

Respons Dinamika PBNU Pascapleno, PWNU DKI Dorong Muktamar Luar Biasa,

Next Post
PWNU DKI Jakarta

Respons Dinamika PBNU Pascapleno, PWNU DKI Dorong Muktamar Luar Biasa,

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Pemerintah Arab Saudi resmi memberlakukan pembatasan ketat akses ke Kota Suci Makkah mulai hari ini, Selasa (29/4/2025).

PBNU dan Ujian Integritas di Tengah Kasus Kuota Haji

10 bulan ago
Pengamat sosial politik Fachry Ali menyarankan agar DPW PKB Jakarta, menjaga momentum yang telah dicapai usai Pemilu 2024, dan membangun kerja-kerja intelektual dengan kalangan akademisi. FOTO | Dok. PKBTalk24

Komitmen Jadi Sahabat bagi Semua, PKB Jakarta Lanjutkan Kerja-kerja Intelektual dengan Kalangan Akademisi

2 tahun ago

Popular News

  • Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar

    ‘PKB Harus Diawasi Terus’: Candaan Prabowo, Sinyal Politik atau Sekadar Gojlokan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelombang Kecaman ke Trans7: Ketua Perempuan Bangsa DKI Sebut Tayangan Xpose Lecehkan Kiai dan Pesantren

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Jakarta dan Transformasi Politik Kaum Santri di Ibu Kota

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Petugas Haji Wajah Negara di Tanah Suci, Profesionalisme dan Integritas Jadi Harga Mati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • APBD DKI Terpangkas Rp16 Triliun, FPKB Ingatkan: Jangan Sentuh Anggaran Banjir dan Pemakaman!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

INFO HAJI & UMROH

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKB, M. Fuadi Luthfi - FOTO | Dok. PKBTalk24
Berita Parlemen

Interupsi PKB di Paripurna DPRD: RDF Rorotan Disorot, Bau Sampah Jadi Alarm Keras Kebijakan Tertunda

30 April 2026
Tanggul Laut Raksasa
Feature

Politik Ekologis di Tengah Arus Perubahan Iklim: Menguji Eksistensi Klaim Green Party PKB di Tengah Krisis Lingkungan

27 Januari 2026
hasbiallah Ilyas dan mohammad fauzi
PKBTalk Event

Hasbiallah Ilyas Kembali Nahkodai PKB Jakarta 2026–2031, Regenerasi dan Kerja Kerakyatan Jadi Fokus

30 April 2026
Berita PKB

DPP PKB Mulai Sosialisasikan SK Ketua DPW se-Indonesia, Gus Halim: Menang Itu Mudah, Mengelola Pemerintahan Tantangan Sesungguhnya

4 Mei 2026
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKB, Hengky Wijaya, dalam rapat paripurna DPRD DKI Jakarta, Senin (19/1/2025). FOTO | Dok. PKBTalk24
Berita PKB

Bahas Ranperda P4GN, PKB Tegaskan Narkoba Musuh Kemanusiaan dan Ancaman Masa Depan Jakarta

12 Mei 2026

Newsletter

Dapatkan update Berita dan info terbaru dari PKBTalk24.com...

Category

  • Berita Eksekutif
  • Berita Parlemen
  • Berita PKB
  • Budaya Kita
  • Daerah
  • Dunia Usaha
  • Eco-Living
  • Ekbis
  • Ekonomi Syariah
  • Feature
  • Figure
  • Haji dan Umrah
  • Headline
  • Healthy Living
  • Humaniora
  • IKNNews
  • Khasanah Aswaja
  • NU Today
  • Nusantara
  • NUTrip
  • Opini
  • Pendidikan
  • PKBTalk Event
  • PKBTalk24
  • PolitisiTalks
  • Ruang Baca
  • SalebTalks
  • Santri Digital
  • UlamaTalks
  • Wawancara
  • WIBTalks
  • WITATalks
  • WITTalks
  • WomenTalks

About Us

Sebagai platform lierasi berita rintisan, PKBTalk24.com hadir dengan menggabungkan tiga unsur kebutuhan dasar pembaca, pembuat dan penyedian konten sosial media yang serba cepat dan instant, sekaligus edukasi seputar pentingnya informasi yang valid, terpercaya, utuh-menyeluruh sesuai kontek peristiwanya, selaras  kaidah-kaidah jurnalistik, sehingga nilai berita dan informasi yang disampaikan tetap valid, relevan, dan bermakna.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2023 Copyright pkbtalk24.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Feature
    • Opini
    • Khasanah Aswaja
    • Ruang Baca
    • Santri Digital
  • Figure
    • UlamaTalks
    • WomenTalks
    • PolitisiTalks
    • SalebTalks
  • Nusantara
    • Berita PKB
    • Berita Parlemen
    • Berita Eksekutif
    • NU Today
  • Daerah
    • IKNNews
    • WIBTalks
    • WITTalks
    • WITATalks
  • Ekbis
    • Ekonomi Syariah
    • Dunia Usaha
    • Haji dan Umrah
    • NUTrip
  • Humaniora
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Budaya Kita
    • Eco-Living
  • PKBTalk24
    • Wawancara
  • PKBTalk Event

© 2023 Copyright pkbtalk24.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In