Jelang Muktamar NU 2026, istilah “paslon” jadi cara baru membaca peta kekuatan. Gus Lilur ungkap manuver elite hingga potensi koalisi besar.
PKBTalk24 | Jakarta ~ Kalau biasanya istilah “paslon” cuma kita dengar di Pilpres atau Pilkada, kali ini istilah itu mulai dipakai untuk membaca arah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Dan yang melempar istilah ini bukan orang sembarangan—Gus Lilur. Kiai kampung yang dikenal vokal itu menyebut, meski “paslon” nggak ada dalam struktur resmi NU, tapi justru relevan buat memahami apa yang sedang terjadi di balik layar.
“Ini bukan istilah formal, tapi realitasnya seperti itu,” ujarnya.
Bukan Cuma Milih, Tapi Menentukan Siapa yang Milih
Secara aturan, Rais Aam dipilih lewat mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Tapi menurut Gus Lilur, permainan sesungguhnya justru terjadi sebelum itu. “Yang lebih penting bukan cuma siapa yang dipilih, tapi siapa yang jadi pemilih,” kira-kira begitu pesannya.
Artinya? Komposisi AHWA bisa jadi “medan tempur” paling krusial. Bahkan, beredar kabar bahwa Sekjen PBNU Saifullah Yusuf disebut-sebut punya kepentingan dalam menentukan siapa saja yang masuk AHWA.
Peta Kekuatan Mulai Kebaca
Dari berbagai sinyal yang muncul, Gus Lilur membaca ada beberapa “paket” yang mulai terbentuk:
- Yahya Cholil Staquf masih di jalur Ketua Umum, tapi belum punya pasangan pasti
- Saifullah Yusuf dorong Miftachul Akhyar tetap jadi Rais Aam
- Poros yang dekat dengan Partai Kebangkitan Bangsa dorong Said Aqil Siradj
- Lingkar Kementerian Agama Republik Indonesia mulai lirik Nazaruddin Umar
- Dan tentu saja… selalu ada “kuda hitam” di detik terakhir
Koalisi Besar? Bisa Jadi!
Yang bikin makin menarik, ada potensi koalisi lintas jaringan. Bayangin kalau nama-nama seperti: Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar ada di satu barisan. Game over sebelum mulai?
“Bisa saja hasilnya sudah ‘jadi’ sebelum Muktamar dibuka,” kata Gus Lilur.
Semua hitung-hitungan politik itu tetap harus lolos satu “filter” penting: kiai pesantren. Di NU, mereka ini sering jadi penentu yang nggak bisa ditebak pakai rumus politik biasa.
Kenapa Paket Lama Bubar?
Pertanyaan menarik juga muncul: kenapa Yahya Cholil Staquf nggak lanjut bareng Miftachul Akhyar?
Menurut Gus Lilur, biasanya ini soal: strategi, pengaruh, sampai beda visi ke depan. Intinya: Ini Bukan Sekadar Pemilihan. Muktamar NU bukan cuma soal memilih pemimpin. Ini soal arah organisasi terbesar di Indonesia ke depan. Dan istilah “paslon” tadi? Itu cuma pintu masuk buat memahami satu hal besar:
Bahwa di NU, kekuasaan selalu lahir dari kombinasi dua poros: Rais Aam dan Ketua Umum. Dan di balik itu… ada pertarungan ide, jaringan, dan masa depan. (AKH)








