
Dengan menghormati kiai dan asatid, santri menunjukkan kesyukuran dan penghargaan atas ilmu dan hikmah yang diberikan, serta kesadaran akan posisi dan peran kiai dan asatid sebagai pewaris Nabi.
Oleh : KH Imam Jazuli Lc., MA | *
PKBTalk24 | Cirebon ~ Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan asatiz merupakan bagian integral dari akhlak dan etika yang diajarkan. Penghormatan ini tidak hanya berupa tindakan fisik, seperti mencium tangan, membungkukkan badan, bahkan mencium kaki, tetapi juga mencakup sikap hati yang penuh hormat dan kasih sayang.
Penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua dalam ilmu agama merupakan warisan dari Rasulullah SAW. Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menghormati guru dan orang yang lebih tua. Misalnya, dalam beberapa hadis shahih yang meriwayatkan cium tangan, sambil menunduk dan mematung, bahkan ada yang sampai mencium kaki Rasulullah, yaitu hadis dari Zarra’ al-Abidy.
Riwayat tersebut terdapat dalam beberapa kitab hadis, seperti Sunan Abi Dawud, Al-Adab al-Mufrad karya, dan riwayat lain yang sanadnya shahih dan hasan. Hadis ini menjelaskan bahwa sahabat mencium tangan dan kaki Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setibanya mereka di Madinah.
Misalnya saja riwayat dari Az-Zarra’; ketika shahabat Nabi mencium tangan dan kaki Nabi Saw.
عَنْ الزارع العبدي وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ: لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا، فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ… (سنن أبي داود، 4/ 357)
Dari Az Zarra’ al Abidiy dia termasuk utusan Abdu Qais berkata: “Ketika kami sampai ke Madinah, kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan dan kaki Nabi Muhammad ShallaAllah alihi wa sallam…”
Bahkan, ada riwayat orang Yahudi saja bersedia mencium tangan dan kaki nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dan beberapa shahabat Nabi:
عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَحَاصَ النَّاسُ حَيْصَةً… قَالَ: فَدَنَوْنَا فَقَبَّلْنَا يَدَهُ، فَقَالَ: «إِنَّا فِئَةُ الْمُسْلِمِينَ». (سنن أبي داود، 3/ 46)
Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar bercerita kalau ia pernah berada di sebuah rombongan pasukan pengintai (sariyyah) Rasulullah Saw. Kemudian, pasukan melarikan diri dan saya termasuk di antaranya… Ibn ‘Umar berkata: “Kami kemudian mendekati Nabi dan mencium tangannya”. Nabi Saw. merespon dengan mengatakan: “saya adalah bagian dari umat muslim.”
Ada puluhan hadis serupa, selain itu, ada banyak hikayat bahwa para sahabat Rasulullah SAW juga menunjukkan contoh yang baik dalam menghormati guru dan orang yang lebih tua. Mereka akan berdiri mematung ketika Rasulullah SAW datang, dan mereka akan mencium tangannya sebagai tanda penghormatan.
Hal tersebut sudah dicontohkan Sayyidina Ali saat mencium tangan dan kaki dari pamannya; Abbas bin Abdul Muthalib:
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُقَبِّلُ يَدَ الْعَبَّاسِ وَرِجْلَيْهِ. (الأدب المفرد، ص: 339)
Dari Shuhaib berkata, saya melihat Ali RadhiyaAllahu anhu mencium kedua tangan Abbas atau kakinya dan berkata, Wahai pamanku! Berikanlah keridhaan kepadaku.
Perlu diingat bahwa tindakan Sayyidna Ali ini menunjukkan bahwa ia menghormati pamannya, tidak hanya sebagai orang yang lebih tua dan memiliki hubungan kekerabatan, tetapi juga karena kealiman dan kesolehannya.
Dalam budaya Arab pada saat itu, mencium tangan dan kaki seseorang sebagai tanda penghormatan dan kesyukuran adalah hal yang biasa, sama sekali bukan kemusyrikan. Contoh seperti itu kemudian diikuti oleh generasi-generasi selanjutnya, termasuk para ulama dan kiai di Nusantara.
Penghormatan kepada kiai dan asatid juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Pertama, penghormatan ini menunjukkan kesyukuran dan penghargaan atas ilmu dan jasa yang telah diberikan. Kedua, penghormatan ini juga menunjukkan kesadaran akan posisi dan peran kiai dan asatid sebagai pewaris Nabi.
Dalam tradisi Islam, ulama dianggap sebagai pewaris Nabi, karena mereka mewarisi ilmu dan hikmah yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.
Tradisi Pesantren
Salah satu kitab yan populer di Pesantren adalah kitab Talimul Mutaallim karya Azzarnuji. Salah satu doktrin yang mengikuti sunnah nabi dan salafus soleh dalam kitab terabut menyebut:
اعلم بأن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به الا بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الاستاذ وتوفيره
Ketahuilah, sesungguhnya para pencari ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan mengamalkannya kecuali dengan menghormati ilmu dan pemiliknya, mengormati guru (kiai) dan memuliakannya.
Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan asatid diwujudkan dalam berbagai bentuk dan itu secara ushul bersumber dari sunnah dan kitab mu’tabarah. Misalnya, santri akan mencium tangan kiai, membungkukan badan, bahkan sampai “ngesot” sebagai tanda penghormatan dan kesyukuran atas ilmu yang diberikan.
Sekali lagi, penghormatan ini memiliki makna filosofis yang3 mendalam dan diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk mencium tangan, membungkukkan badan, dan mencium kaki. Dengan menghormati kiai dan asatid, santri menunjukkan kesyukuran dan penghargaan atas ilmu dan hikmah yang diberikan, serta kesadaran akan posisi dan peran kiai dan asatid sebagai pewaris Nabi.
Selain itu, dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan asatid merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pembentukan karakter. Penghormatan ini bukan hanya ditujukan kepada kiai dan asatid sebagai individu, tetapi juga kepada ilmu dan hikmah yang mereka wakili. Dengan demikian, penghormatan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan intelektual santri. Wallahu’alam.
bishawab ***
______
*) Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.








