Pertemuan ulama NU akan digelar di Pesantren Lirboyo, Kediri. Lirboyo siap menjadi tuan rumah dengan dua syarat: menghadirkan pihak-pihak yang berkonflik dan mengundang kiai sepuh Syuriyah. Gus Yahya memastikan forum digelar di tengah polemik pemakzulan dirinya.
PKBTalk24 | Kediri ~ Pondok Pesantren Lirboyo, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Jawa Timur, menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pertemuan para ulama dan kiai NU untuk meredakan polemik yang tengah menghangat di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Namun, kesediaan itu disertai dua syarat penting yang dianggap menjadi kunci terjadinya islah.
Juru Bicara Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid Shohib (Gus Muid), menyampaikan bahwa keputusan ini datang langsung dari para pengasuh utama, KH Anwar Manshur dan KH Kafabihi Mahrus, sebagai bentuk keprihatinan mendalam terhadap kondisi internal NU.
Dua Syarat Lirboyo untuk Menggelar Pertemuan Ulama
Menurut pesan yang diterima Gus Muid dari salah satu pengasuh, KH Athoillah Anwar, Lirboyo hanya akan menjadi tuan rumah pertemuan akbar tersebut jika memenuhi dua ketentuan berikut:
1. Semua Pihak yang Berkonflik Hadir
Lirboyo meminta agar dua kubu yang sedang bersilang pendapat di internal PBNU hadir lengkap dalam forum ini. Tanpa kehadiran kedua pihak, pertemuan dinilai tidak akan menghasilkan solusi yang substantif. “Lirboyo bersedia menjadi tuan rumah kalau yang hadir adalah kedua belah pihak,” ujar Gus Muid.
Ia tidak merinci nama atau kelompok yang dimaksud, namun mengatakan publik sudah memahami siapa saja yang terlibat dalam ketegangan tersebut.
2. Menghadirkan Kiai Sepuh dan Unsur Syuriyah
Syarat kedua, pertemuan harus mengundang kiai-kiai sepuh, terutama yang berada dalam jajaran Syuriyah PBNU dan para pengasuh pesantren.
“Mereka adalah ashhabul ma’had, para pemangku pesantren. Dalam banyak hal, merekalah penjaga marwah NU,” jelasnya.
Kehadiran para kiai sepuh dianggap penting sebagai penengah yang dihormati seluruh pihak, sekaligus penjaga otoritas moral dalam tradisi organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia ini.
Pesantren Lirboyo: “Kami Siap, Tinggal Menunggu Kesepakatan Waktu”
Gus Muid menegaskan bahwa Lirboyo sudah memberikan lampu hijau untuk pelaksanaan pertemuan tersebut. Namun jadwalnya masih harus menunggu kesediaan semua pihak. “Kalau sudah ada kata sepakat, silakan dijadwalkan. Lirboyo siap jadi rumah islah,” katanya.
Gus Yahya: Pertemuan Akan Digelar di Lirboyo
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), turut membenarkan rencana pertemuan ulama di Pesantren Lirboyo. Menurutnya, forum tersebut akan menghadirkan kiai sepuh, para masyayikh, dan pimpinan NU lintas struktur.
“InsyaAllah akan digelar pertemuan yang lebih luas dengan para kiai sepuh. Tuan rumahnya Pesantren Lirboyo,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta.
Rencana pertemuan ini berlangsung di tengah memanasnya isu pemakzulan dirinya dari kursi Ketua Umum PBNU. Isu tersebut mencuat setelah beredarnya dokumen “Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU” bertanggal 20 November 2025 yang menyebut desakan agar Gus Yahya mundur. Keabsahan dokumen itu sendiri masih simpang-siur.
Gus Yahya: Tidak Akan Mundur
Merespons desakan tersebut, Gus Yahya menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk mundur sebelum menuntaskan masa khidmatnya hingga 2026.
“Saya tidak terbersit pikiran untuk mundur. Saya mendapat amanat Muktamar ke-34 untuk lima tahun, dan saya akan jalankan amanat itu,” jelasnya.
Ia menyebut mandat dari para mufassir muktamar sebagai dasar legitimasi kepemimpinannya.
Pertemuan Lirboyo Dipandang sebagai Momentum Rekonsiliasi
Forum ulama di Lirboyo diharapkan menjadi ruang dialog penuh hikmah, sesuai tradisi musyawarah para kiai yang menjadi nafas utama NU selama satu abad lebih. Banyak kalangan menganggap forum ini dapat menjadi titik balik rekonsiliasi, sekaligus mengembalikan suasana teduh di tubuh organisasi.
Dengan reputasinya sebagai pusat ilmu, adab, dan keteladanan moral, Lirboyo dinilai tempat paling tepat untuk merawat persatuan dan merumuskan jalan tengah. (AKH)









