NU berada di titik kritis. Rais Aam KH Miftachul Akhyar menegaskan pemberhentian Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU, sementara Gus Yahya memilih bertahan dengan mandat Muktamar. Polemik internal ini menguji kedewasaan organisasi terbesar umat Islam Indonesia.
PKBTalk24 | Jakarta — Nahdlatul Ulama kembali berada pada satu titik yang jarang muncul dalam sejarah panjangnya: sebuah persimpangan jalan yang menuntut kejernihan, kesabaran, dan kebesaran jiwa para pemimpinnya. Di tengah dinamika yang bergulung cepat dan ruang publik yang berisik oleh opini, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan kembali keputusan pemberhentian Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di kantor PWNU Jawa Timur, Sabtu (29/11/2025). Di sana, kata-kata Rais Aam terdengar lebih seperti sebuah penegasan moral daripada sekadar deklarasi administratif.
Keputusan tersebut merujuk pada Rapat Harian Syuriyah PBNU, 20 November 2025, dan memperoleh dukungan 36 PWNU yang hadir. Dukungan yang tidak hanya administratif, melainkan mencerminkan kegelisahan dan harapan sebagian besar struktur NU yang ingin organisasi kembali pada keseimbangan.
“Para PWNU memahami sepenuhnya latar belakang keputusan ini dan mendukung kami untuk menindaklanjuti,” ujar Rais Aam dalam nada yang menahan gelombang dinamika yang terus membesar.
Menurut keterangan resmi yang diterima NU Online, sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB, Gus Yahya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Sejak saat itu, kepemimpinan PBNU berada sepenuhnya di bawah Rais Aam, menandai satu fase transisi yang tidak hanya administratif, tetapi juga emosional bagi satu organisasi besar yang lahir dari tradisi, khidmah, dan teladan para masyayikh.
Enam Penegasan: NU Mengambil Nafas Panjang
Dalam pernyataannya, KH Miftachul Akhyar menyampaikan enam penegasan yang terasa seperti upaya menahan NU agar tetap tegak di tengah badai:
-
Keputusan Syuriyah PBNU disebut berlandaskan fakta, tanpa motif tersembunyi selain yang tertulis dalam risalah resmi.
-
Untuk memastikan roda organisasi terus berjalan normal, PBNU akan segera menggelar Rapat Pleno atau Muktamar, sebagai ruang konstitusional yang menjadi penentu arah ke depan.
-
Melihat derasnya opini publik, PBNU membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menyisir kebenaran informasi yang simpang siur. Dua Wakil Rais Aam—KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir—akan menjadi pengarah.
-
Demi menjaga objektivitas investigasi, implementasi Digdaya Persuratan Tingkat PBNU ditangguhkan, sementara PWNU dan PCNU tetap berjalan normal.
-
Rais Aam menegaskan kembali nilai Khittah NU: mendahulukan kepentingan bersama, menjunjung akhlak mulia, dan menjaga kejujuran dalam pikiran serta tindakan.
-
Di ujung pernyataannya, Rais Aam mengajak warga NU bermunajat kepada Allah SWT, agar diberikan jalan keluar terbaik. Sebuah seruan yang terasa menyatukan, di tengah ruang publik yang terbelah.
Gus Yahya Bertahan: “Saya Mengemban Amanat Muktamar”
Di sisi lain, Gus Yahya menegaskan dirinya akan tetap menjalankan mandat yang diberikan oleh Muktamar ke-34 di Lampung. Pernyataannya di Surabaya, Sabtu (22/11/2025), mengandung keteguhan sekaligus pesan bahwa polemik ini tidak sederhana.
“Saya mendapatkan amanat lima tahun dan akan saya jalani. Insyaallah saya sanggup.”
Kalimat itu menandai bahwa persoalan ini belum sampai pada titik akhir. Ada ruang konstitusional yang menunggu, ada TPF yang bekerja, dan ada harapan besar bahwa NU akan menyelesaikan perbedaan ini dengan cara yang paling elegan: melalui musyawarah, akhlak, dan keikhlasan. (AKH)












